Rabu, 03 Oktober 2012

Kalimat dan Kerangka Karangan



BAB I
PENDAHULUAN
A.        Latar Belakang
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan yang utuh, sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tulisan harus memiliki subjek dan predikat. Panjang atau pendek, kaliamt hanya dapat terdiri dari subjek dan predikat. Sedangkan menurut Gorys keraf kalimat adalah satuan ujaran yang didahului oleh kesenyapan dan diakhiri oleh kesenyapan serta mempunyai makna.
Sedangkan kerangka karangan adalah satuan rancangan kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan yang akan digarap sehingga karangan dalam membuat suatu rancangan harus terpenting, logis dan teratur agar kerangka karangan yang disusun menjadi kerangka karangan yang baik dan benar.
Oleh karena itu sebagai bangsa Indonesia kita harus dapat mengetahui dan dan membuat kalimat dan kerangka karangan yang baik dan benar.
B.        Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian kalimat dan karangka karangan ?
2.      Apa saja jenis-jenis kalimat ?
3.      Apa saja jenis-jenis kerangka karangan ?
4.      Apa saja syarat-syarat kerangka karangan yang baik ?
5.      Apa saja pola susunan kerangka karangan ?
6.      Bagaimana menyusun kerangka karangan ?

C.        Tujuan
Agar dapat mengetahui dan membuat kalimat yang baik dan efektif, serta dapat membuat karangka karangan yang baik, logis dan benar.


BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kalimat dan Kerangka Karangan
1. Pengertian Kalimat
Kaliamat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tetulis harus memiliki subjek dan predikat (Srifin dan Tasai, 2002 : 58). Panjang atau pendek, kaliamt hanya dan harus terdiri atas subjek dan predikat. Kalimat pendek menjadi panjang atau berkembang karena diberi tambahan-tambahan atau keterangan-keterangan pada subjek, pada predikat, atau pada keduanya (Wijayamartaya, 1991 : 9). Pendapat lain mengatakan, kalimat adalah satuan gramatikyang dibatasi oleh adanya jedah panjang yang disertai nada akhir naik dan turun (Ramlan, 1981 : 6). Menurut Kridalaksana, kalimat adalah suatu bahasa secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final, baik secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa (Kridalaksana dkk, 1984 : 224). Satu bagian ujaran yang didahului dan diikuti oleh kesenyapan dan diakhiri oleh kesenyapan, sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah lengkap, adalah kalimat, (Keraf, 1978 : 156). Kaliamt adalah satuan gramatik yang ditandai adanya kesenyapan awal dan kesenyapan akhir yang menunjukkan bahwa kalimat itu sudah selesai (lengkap).
2. Pengertian kerangka karangan
Kerangka karangan adalah kumpulan ide-ide  yang disusun secara sistematis dan logis, dari suatu karangan yang akan dikerjakan yang memuat suatu garis besar.
Kerangka karangan dapat membantu penulis menyusun karangannya secara teratur. Wujud gagasan, struktur, nilai umum karangan harus diungkapkan secara jelas sehingga susunan dan hubungan timbal balik antara gagasan itu tepat. Disamping itu karangka karangan dapat pula membantu penulis memilih dan mementukan bahan-bahan penunjang yang diperlukan serta penempatannya dalam kerangka karangan.
B. Jenis-jenis Kalimat
      1. kalimat Berdasarkan Jumlah dan Jenis Klausa yang Terdapat di Dalamnya.
a.         Kaliamt Minor
          Kaliamt minor adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa terikat atau sama sekali tidak mengandung struktur klausa.
Contoh : Terserah saja.
b.         Kalimat Mayor
          Kaliamt mayor adalah kaliamt yang terdiri atas sekurang-kurangnya satu klausa bebas. berdasarkan statusnya, dalam kalimat mayor, pembentuk hanya yang inti saja.
Contoh : Orang itu badannya sangat gemuk.
      2. Kalimat Berdasarkan Isi, Jenis dan Responya
             a.      kalimat Peryataan
          kaliamat peryataan adalah kalimat yang dibentuk untuk menyiarkan informasi tanpa mengharapkan respon tertentu. Cirri-ciri untuk mengenal kalimat ini adalah melalui pola intonasinya yang bernada kahir turun (dalam bahasa lisan) dan tanda titik (.)
contoh : Saya tidak membawa uang sama sekali.
             b.     kalimat Tanya
          kalimat Tanya adalah kaliamat yang dibentuk untuk memancing respon yang berupa jawaban. Kaliamt Tanya dapat dikenal dari pola intonasinya yang bernada akhir naik serta nada akhir t=dan pada pola intonasi kalimat Tanya. Nada akhir kalimat Tanya diakhiri dengan tanda Tanya (?). 
contoh : Siapa pemilik rumah itu?
             c.      Kalimat Perintah
          kaliamt perintah adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing response yang berupa tindakan. Kaliamt perintah ditandai dengan tanda (!). tetapi penggunaan seru ini biasa tidak dipakai kalau sifat dari perintah itu lemah, demikian juga predikatnya diikuti oleh partikel lain.
Contoh : Jangan membuang sampah di Sembarangan tempat!
      3. kaliamt Berdasarkan Hubungan Aktor-aksi
             a.      Kalimat Aktif
          kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya berperan sebagai aktor. Subjek kalimat aktif berperan sebagai perbuatan yang diyatakan oleh predikat. Predikat kalimat aktif terdiri dari verba tansitif dan verba intransitif. Afiks yang digunakan dalam pembentukan kata yang berfungsi sebagai predikat ialah men- dan ber- yang dapat dikombinasikan dengan –I atau –kan.
Contoh : Ayah membelikan adik baju baru.
             b.     Kalimat Pasif
          kalimat pasif adalah kalimat yang memang subjeknya berperan sebagai penderita. Subjek dalam kalimat pasif berperan sebagai penderita perbuatan yang dinyatakan oleh predikat kalimat tersebut. Predikat kalimat pasif terdiri dari verba-verba yang berpredikat di- yang dapat berkombinasi dengan sufiks –I dan –kan, berprefiks ter-, berkonfiks ke-an, dan verba yang didahului oleh prominal persona.
Contoh : Tidak terlihat oleh benda yang kau tunjukkan itu.
      4. Kalimat Berdasarkan Jumlah Frasa
             a.      Kalimat Tunggal
          Kalimat tunggal adalah kalimat yang memiliki satu pola klausa yang terdiri dari satu subjek dan satu predikat. Kalimat tunggal adalah kalimat dasar sederhana. Yang dibagi atas dua bagian yaitu  pertama kalimat nominal yang predikatnya berupa kata benda contoh Saya siswa kelas VI. Kedua kalimat verbal yang predikatnya berupa kata kerja contoh Adik bernyanyi.
             b.     Kalimat Majemuk
          kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri atas dua atau lebih kalimat tunggal yang saling berhubungan baik koordinatif maupun subkoordinatif.
          1) Kalimat majemuk setara
          Kaliamt majemuk setara adalah kalimat yang terbentuk dari 2 atau lebih kaliamt tunggal dan keduudkan tiap kalimat sederajat.
                Contoh : Kami mencari bahan dan mereka meramunya.
          2) Kalimat majemuk bertingkat
          Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang terdiri dari satu suku kalimat yang bebas dan satu suku kalimat yang tidak bebas. Kedua kalimat tersebut memiliki pola hubungan kalimat yang tidak sederajat.
Contoh : Walau computer itu dilengkapi dengan alat-alat modern, para hecker masih dapat mengacaukan data-data computer itu.
                                3) Kalimat majemuk campuran
          Kalimat majemuk campuran adalah kalimat yang terdiri dari atas kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat atau kebalikannya.
Contoh : Karena hari sudah malam, kami berhenti dan langsung pulang.
C. Jenis-jenis Kerangka Karangan
      1. Jenis Karangka karangan Berdasarkan Perincian
             a. Kerangka Sementara (non formal)
                Karangka karangan sementara ini berupa alat bantu atau sebuah penuntun. Meskipun karangka karangan ini bersifat sementara namun diharapkan agar penulis dapat menggarap persoalannya secara dinamis.
             b.  Kerangka Formal
                Kerangka karangan formal harus didasarkan oleh suatu rancangan terperinci. Untuk memerinci diperlukan simbol penulisan yang berbentuk angka dan huruf latin.
      2. Jenis Kerangka Karangan Berdasarka Penulisan Teks
             a. kerangka karangan Kalimat
                Kerangka karangan ini mempergunakan kaliamt berita untuk merumuskan setiap topik.
             b. Kerangka karangan Topik
                kerangkah karangan ini menggunakan topik-topik  dengan langkah –langkah sebagai berikut
                1) Rumusan gagasan pokok secara jelas dalam kalimat lengkap
                2) Infentarisasikan gagasan/topik
3) Evaluasi dan aturlah gagasan tadi dengan membuat klasifikasi  terhadap hal-hal yang saling berhubungan
4) Aturlah sub topik  dalam kerangka karangan
5) Evaluasi gagasan setiap kelompok
6) Susunlah kerangka karangan dengan terperinci dan lengkap
7) Tinjauan kembali untuk dikoreksi
D. Syarat-syarat kerangka Karangan
      1. Tesis atau pengungkapan maksud harus jelas
      2. tiap unsure dalam kerangka karangan harus disusun secara logis
      3. pokok-pokok dalam kerangka karangan harus disusun secara logis
      4. terus mempergunakan pasangan simbol yang konsisten
E. Pola Susunan Kerangka karangan
      1. Pola Alamiah
      Pola alamiah adalah suatu urutan unit-unit kerangka karangan sesuai dengan keadaan yang nyata di alam, sebab itu susunan alamiah itu didasarkan kepada ketiga atau keemapt dimensi dalam kehidupan manusia: atas-bawah, melintang-menyebrang, sekarang-nanti, dulu-sekarang, timur-barat dan sebagainya. Oleh sebab itu susunan alamiah dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu:
             a. Urutan waktu atau urutan kronologis
             b. Urutan ruang (sposial)
             c. Topik yang ada
      2. Pola Logis
      Manusia mempunyai suatu kesanggupan dimana manusia lebih sempurna dari mahluk yang lain, yaitu sanggup menghadapi segala sesuatu yang berada disekitanya dengan kemampuan akal budinya. Urutan logis sama sekali tidak ada hubungannya dengan suatu cirri yang intrn dalam materinya, tetapi kiat dan tanggapan penulis.
                   Macam-macam urutan logis yang dikenal adalah.
             a. Urutan klimaks dan anti klimaks
             b. Urutan kuasal
             c. Urutan pemisahan masalah
             d. Urutan umum-khusus
             e.Urutan familitas
             f. Urutan akseptabilitas
F. Penyusunan kerangka Karangan
             Suatu kerangka karangan yang baik tidak sekali dibuat. Penulisan dan penyusunan kerangka karangan selalu berusaha menyempurnakan bentuk yang pertama. Langkah ini tidak mutlak harus diikuti oleh penulis-penulis yang sudah mahir, orang yang mahir menulis tulisan-tulisan kompleks atau dengan mudah menyusun kerangka karangan.
             Langkah-langkah untuk menyusun kerangka karangan adalah sebagai berikut.
      1.      Rumusan tema/masalah yang jelas berdasarkan suatu topic dan tujuan yang akan dicapai melalui topic tersebut. Tema yang dirumuskan untuk kepentingan suatu kerangka karangan haruslah berbentuk tesis atau pengungkapan maksud.
      2.      langkah yang kedua adalah refortansasi topik-topik bahwasanya yang dianggap merupakan perincian dari tesis atau pengungkapan maksud, dalam hal ini penulisan boleh mencatat sebayak-bayaknya topik-topik Yng terlintas dalam pikirannya, dengan tidak perlu mengadakan evaluasi langsung terhadap topik-topik tadi.
      3.      langkah ketiga adalah penulis berusaha mengadakan evaluasi semua topik yang telah dicatat pada langkah kedua di atas.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
                             Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tertulis harus memiliki subjek dan predikat. Panjang atau pendek, kalimat hanya dan harus terdiri atas subjek dan predikat. Kalimat pendek menjadi panjang atau berkembang karena diberi tambahan-tambahan atau keterangan-keterangan pada subjek, pada predikat atau keduanya.
                             Kalimat dapat terdiri atas satu klausa jika kalimat merupakan kalimat tunggal yang berklausa, sedangkan kalimat luas biasa terdiri dari dua klausa atau lebih.
                             Kaliamt adalah satuan gramatikal yang diawali oleh kesenyapan dan diakhiri oleh kesenyapan dan mempunyai makna.
                             Jadi dapat kita simpulkan bahwa kalimat adalah satuan gramatikal yang dibentuk oleh suatu kesenyapan (.) atas satu atau lebih klausa yang ditata menurut pola tertentu, dan dapat berdiri sendiri sebagai satu satuan.
                             Sedangkan kerangka karangan adalah suatu pola dasar penentuan topik, suatu karangan yang secara logis dan sistematis. Agar dalam pembuatan kerangka karangan tidak terjadi penggarapan dua kali maka kita perlu mengevaluasi setiap topik yang kita kerjakan.
.B. Kritik dan Saran
                             Segala yang kami usahakan belumlah mencapai kesempurnaan karena kesempurnaan itu adalah milik Tuhan, olehnya segala bentuk kritik yang membangun dan mampu memberikan motifasi kami sangat mengharapkannya demi kebaikan dan kesederhanaan dalam apa yang telah kami usahakan sebagai mahluk-Nya yang hanya menginginkan kesederhanaan.


DAFTAR PUSTAKA
Umar, Ratnawati, Hj. 2010. Menulis I. Sengkang :___________
Arifin, E. Zainal dan S. Amran Tasai. 2006. Cermat Berbahasa Indonesia untuk perguruan Tinggi. Jakarta : CV Akademika Presindo.



     
Poskan Komentar